Sabtu, 25 Agustus 2012

NOTA PEMBELAAN PERKARA PIDANA

Dalam menghadapi persidangan perkara pidana, sebelum sampainya pada persidangan putusan yang akan dijatuhkan oleh Majelis Hakim tingkat pertama, maka kepada Terdakwa akan diberikan hak untuk  menyampaikan Nota Pembelaan (Pledooi) baik disampaikan secara sendiri oleh Terdakwa dan/atau Terdakwa menyampaikan melakui Penasihat Hukumnya di persidangan.

Berikut salah satu contoh Nota Pembelaan yang disampaikan pada persidangan perkara pidana yang tercatat pada register perkara Nomor : 39/Pid.B/2012/PN.Mgl pada Pengadilan Negeri Magelang di Kota Magelang dalam dugaan tindak pidana Penyerangan Secara Bersama-sama atau Penganiayaan.


NOTA PEMBELAAN

(PLEDOOI)

TERDAKWA DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino

PERKARA TINDAK PIDANA

NO. REG. PERKARA : 39/Pid.B/2012/PN.Mgl
Pada Pengadilan Negeri Magelang
di Kota Magelang


PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Sebelum pembelaan ini kami mulai, sebagai insan yang beriman pertama-tama perkenankanlah kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan Rahmat-Nya, hari ini, kami penasihat hukum Terdakwa bisa membacakan dan menyampaikan pembelaan dalam sidang yang mulia ini. Tentunya, harapan kami selaku penasehat hukum terdakwa dalam pembelaan yangkami ini dibacakan dihadapan serta disampaikan pada yang mulia Majelis Hakim kiranya dapat menjadi pertimbangan dari sisi kami selaku penasihat hukum terdakwa setelah pada persidangan lalu dihadapan persidangan telah dibacakan dan disampaikan tuntutan/requisitor dari Penuntut Umum untu kemudian Majelis Hakim sampai pada putusan akhir  “Apakah terdakwa ini sungguh melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan Penuntut Umum atau apakah terdakwa benar-benar terbukti secara sah dan meyakinkan berbuat dan bersalah secara hukum sebagaimana tuntutan Penuntut Umum atau malah sebaliknya terdakwa sama sekali tidak bersalah atau tidak memenuhi unsur suatu tindak pidana agar dapat dijatuhi suatu pidana”.

Setelah kami pelajari dengan seksama tuntutan yang diajukan Penuntut Umum terhadap diri terdakwa yang dibacakan pada persidangan Pengadilan Negeri Magelang Selasa 22 Mei 2012, maka perkenankanlah kami Penasihat Hukum menyampaikan pembelaan  atas nama terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino.

Sebelum menyampaikan nota pembelaan, sudah sepatutnyalah kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Yang Mulia Majelis Hakim yang telah memimpin persidangan ini dengan penuh kesabaran, kearifan, dan bijaksana sehingga persidangan berjalan impartial, fair dan objective, dan pada akhirnya semua saksi-saksi maupun terdakwa dapat menerangkan peristiwa dari dugaan tindak pidana sebenarnya. Jika sekiranya dalam pemeriksaan persidangan terdakwa memberikan keterangan yang menurut penilaian Majelis Hakim maupun saudara Jaksa Penuntut Umum kurang berkenan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya; sama sekali tidak terlintas sedikitpun dalam benak terdakwa untuk mengurangi wibawa pengadilan atau pun mempersulit jalannya persidangan. Apa yang disampaikan terdakwa dihadapan persidangan tak lebih dan tak bukan adalah apa yang telah terjadi sebenarnya dan merupakan fakta nyata yang hendak disampaikan Terdakwa untuk memberikan gambaran terang dan jelas dari dugaan tindak pidana yang sedang dihadapinya.

Demikian pula, sudah sepatutnya pula ucapan terima kasih kami sampaikan  kepada Saudara Jaksa Penuntut Umum atas uraian tuntutan yang telah disusun begitu rapi dan jelas sehingga memudahkan bagi kami dalam mengikuti pandangan Penuntut Umum dalam dugaan tindak pidana yang diduga telah dilakukan oleh Terdakwa sehingga akan bisa kami ambil suatu perimbangan dari sisi pandangan kami selaku Penasihat Hukum agar kita semua yang terlibat pada persidangan ini dapat menemukan suatu tujuan utama dari hukum itu sendiri yaitu KEADILAN.
“Justice is the greatest man in the world”


Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Untuk menanggapi tuntutan dari Rekan Jaksa Penuntut Umum pembelaan ini kami susun dengan sistematika sebagai berikut :

1.       Surat Dakwaan
2.       Fakta Persidangan
3.       Tuntutan Penuntut Umum.
4.       Analisis Yuridis
5.       Kesimpulan
6.       Permohonan dan Penutup.

Nota Pembelaan yang kami sampaikan ini dilandaskan dengan sebuah harapan agar Majelis Hakim dapat memeriksa dan memutus perkara ini dengan bijaksana dan penuh kearifan, serta senantiasa berkiblat pada rasa keadilan, hati nurani kemanusiaan dan tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Harapan kami pada yang mulia Majelis Hakim berkenan untuk memberikan putusan terhadap diri terdakwa suatu putusan yang adil, arif dan bijaksana yang semata-mata berdasarkan kepada keadilan yang hakiki atas dasar mencari ridho dari Allah SWT semata selain untuk kemudian demi mewujudkan kepastian hukum, ketertiban hukum dan keadilan.

Tidak berlebihan apabila dipersidangan yang terhormat ini sebagai profesionalitas dalam melaksanakan fungsi aparatur penegak hukum, kita semua yang terlibat dalam persidangan a quo selalu menjunjung tinggi keadilan “fiat justitia ruat coelum” (tegakkan keadilan meskipun langit akan runtuh).


DAKWAAN

Bahwa terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino oleh Penuntut Umum didakwa secara berlapis atau alternatif yang terdiri atas :

Dakwaan Kesatu terdakwa yang pada pokoknya adalah sebagai berikut :

Bahwa ia  terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino pada hari Sabtu tanggal 18 February 2012 sekira pukul 01.00 wib atau setidak-tidaknya pada waktu tertentu dalam bulan February 2012 bertempat di trotoar alun-alun Timur depan Gardena Kota Magelang atau setidak-tidaknya di tempat tertentu yang masih termasuk dalam daerah hukum pengadilan Negeri Magelang, dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orangjika kekerasan yang digunakan mengakibatkan luka-luka,  yang dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut:

Bahwa awalnya terdakwa sedang duduk-duduk di alun-alun depan Gardena bersama dengan RENDI dan GANDOS (DPO), kemudian datang sdr. ADI SALAM yang berboncengan sepeda motor Yamaha Vixion dengan Sdr. EKO dan Sdr. GARA dengan membawa minuman ber-alkohol. Selanjutnya Sdr. GARA menawarkan minuman tersebut kepada terdakwa dan teman-temannya yang juga sedang duduk-duduk di tempat tersebut. Awalnya terdakwa tidak mau minum namun tetap ditawearkan yang akhirnya terdakwa mau minum setengah gelas. Setelah terdakwa minum-minuman tersebut, beberapa saat kemudian terdakwa mendengar Sdr. ADI SALAM mengatakan “E Mas e kok malah plirak-plirik” (e mas kok malah lirak-lirik), yang membuat terdakwa emosi dan menjawab “Ha Pie” (bagaimana), lalu terdakwa langsung memukul Sdr. ADI SALAM, pukulan terdakwa yang pertama mengenai pipi kirinya Sdr. ADI SALAM dan pukulan terdakwa yang kedua mengenai pundak kanan-nya, kemudian terdakwa bersama-sama dengan RENDI (DPO) dan GANDOS (DPO) menendang Sdr. ADI SALAM yang membuat Sdr. ADI SALAM terjatuh namun kemudian dipukul lagi dari arah belakang, yang membuat Sdr. ADI SALAM berusaha untuk melindungi dirinya dan berusaha melarikan diri. Adapun temannya Sdr. ADI SALAM yang bernama EKO dan GARA sudah berusaha melerai namun tidak dihiraukan oleh terdakwa maupun RENDI dan GANDOS.

Bahwa akibat terdakwa tersebut Sdr. ADI SALAM mengalami luka-luka sebagaimana hasil pemeriksaan Visum Et Repertum Nomor: 05/RSLR-VER/II/2012 tanggal 22 February 2012 yang ditandatangani oleh Dr. Dwi Arianto, M.Kes. yang menerangkan pemeriksaan Sdr. ADI SALAM yaitu :

·         Pemeriksaan Luar :

Kepala        : Ditemukan luka memar dikepala samping kiri;
                    Ditemukan luka lecet dikepala bagian samping kiri;
                  Ditemukan luka memar dikepala bagian belakang;
                   Ditemukan luka memar dikepala bagiuan ubun-ubun (tengah).
Leher          :Tidak ditemukan kelainan / luka
Dada          : Tidak ditemukan kelainan / luka
Perut          : Tidak ditemukan kelainan / luka
Tangan       : Tidak ditemukan kelainan / luka
Kaki            : Tidak ditemukan kelainan / luka

·         Pemeriksaan Dalam
Tidak dilakukan pemeriksaan dalam.

Kesimpulan :
Diagnosa (seterang mungkin) : adanya luka memar dikepala bagian kiri, belakang, ubun-ubun dan luka lecet dikepala bagian kiri akibat dari suatu kekerasaan/ benturan, yang kerusakan tersebut diatas disebabkan oleh persentuhan dengan barang tumpul, bermata (berujung) tajam

--------Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (2) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana------------------

Dakwaan Subsidair terdakwa yang pada pokoknya adalah sebagai berikut :

Bahwa ia  terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino pada hari Sabtu tanggal 18 February 2012 sekira pukul 01.00 wib atau setidak-tidaknya pada waktu tertentu dalam bulan February 2012 bertempat di trotoar alun-alun Timur depan Gardena Kota Magelang atau setidak-tidaknya di tempat tertentu yang masih termasuk dalam daerah hukum pengadilan Negeri Magelang, dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orangjika kekerasan yang digunakan mengakibatkan luka-luka,  yang dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut:

Bahwa awalnya terdakwa sedang duduk-duduk di alun-alun depan Gardena bersama dengan RENDI dan GANDOS (DPO), kemudian datang sdr. ADI SALAM yang berboncengan sepeda motor Yamaha Vixion dengan Sdr. EKO dan Sdr. GARA dengan membawa minuman ber-alkohol. Selanjutnya Sdr. GARA menawarkan minuman tersebut kepada terdakwa dan teman-temannya yang juga sedang duduk-duduk di tempat tersebut. Awalnya terdakwa tidak mau minum namun tetap ditawearkan yang akhirnya terdakwa mau minum setengah gelas. Setelah terdakwa minum-minuman tersebut, beberapa saat kemudian terdakwa mendengar Sdr. ADI SALAM mengatakan “E Mas e kok malah plirak-plirik” (e mas kok malah lirak-lirik), yang membuat terdakwa emosi dan menjawab “Ha Pie” (bagaimana), lalu terdakwa langsung memukul Sdr. ADI SALAM, pukulan terdakwa yang pertama mengenai pipi kirinya Sdr. ADI SALAM dan pukulan terdakwa yang kedua mengenai pundak kanan-nya, kemudian terdakwa bersama-sama dengan RENDI (DPO) dan GANDOS (DPO) menendang Sdr. ADI SALAM yang membuat Sdr. ADI SALAM terjatuh namun kemudian dipukul lagi dari arah belakang, yang membuat Sdr. ADI SALAM berusaha untuk melindungi dirinya dan berusaha melarikan diri. Adapun temannya Sdr. ADI SALAM yang bernama EKO dan GARA sudah berusaha melerai namun tidak dihiraukan oleh terdakwa maupun RENDI dan GANDOS.

Bahwa akibat terdakwa tersebut Sdr. ADI SALAM mengalami luka-luka sebagaimana hasil pemeriksaan Visum Et Repertum Nomor: 05/RSLR-VER/II/2012 tanggal 22 February 2012 yang ditandatangani oleh Dr. Dwi Arianto, M.Kes. yang menerangkan pemeriksaan Sdr. ADI SALAM yaitu :

·         Pemeriksaan Luar :
Kepala        :  Ditemukan luka memar dikepala samping kiri;
                     Ditemukan luka lecet dikepala bagian samping kiri;
                     Ditemukan luka memar dikepala bagian belakang;
                     Ditemukan luka memar dikepala bagiuan ubun-ubun (tengah).
Leher          :  Tidak ditemukan kelainan / luka
Dada          :  Tidak ditemukan kelainan / luka
Perut          :  Tidak ditemukan kelainan / luka
Tangan       :  Tidak ditemukan kelainan / luka
Kaki           :  Tidak ditemukan kelainan / luka

·         Pemeriksaan Dalam
Tidak dilakukan pemeriksaan dalam.

Kesimpulan :
Diagnosa (seterang mungkin) : adanya luka memar dikepala bagian kiri, belakang, ubun-ubun dan luka lecet dikepala bagian kiri akibat dari suatu kekerasaan/ benturan, yang kerusakan tersebut diatas disebabkan oleh persentuhan dengan barang tumpul, bermata (berujung) tajam

--------Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana------------------

 FAKTA PERSIDANGAN
 Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Dalam pengungkapan fakta persidangan ini, patut kami tegaskan kami perlu kembali menulis ulang dengan menggarisbawahi beberapa hal yang terkait dengan persidangan a quo karena begitu banyaknya fakta persidangan yang tidak diungkapkan atau terjadinya kesalahan dalam pengungkapan fakta persidangan oleh Rekan Jaksa Penuntut Umum. Terlihat jelas, fakta-fakta persidangan yang diungkapkan Rekan Jaksa Penuntut Umum pada tuntutannya merupakan “copy paste” atau “contekan’ langsung dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik Kepolisian dalam perkara a quo, padahal begitu banyak uraian dalam BAP Kepolisian baik pada keterangan saksi-saksi maupun keterangan terdakwa tidak sesuai dengan apa yang terungkap di persidangan. Dan, seharusnya kita semua yang terlibat dalam persidangan dalam menarik kesimpulan berdasarkan sisi pandang masing-masing hanya berpatokan pada fakta persidangan sesungguhnya dan bukan pada uraian BAP Kepolisian.

Dalam pandangan kami selaku penasihat hukum terdakwa, maka hasil-hasil pemeriksaan persidangan  telah menunjukkan fakta-fakta sebagai berikut :

Keterangan saksi-saksi :
1.       Saksi ADI SALAM Bin SAMSURI,  dibawah sumpah menerangkan :
-           Bahwa saksi merenangkan peristiwa pengeroyokan yang menimpa diri saksi
-        Bahwa yang saksi ketahui pelaku pengeroyokan adalah terdakwa dengan teman-temannya namun saksi lupa  kapan peristiwa tersebut terjadi yang saksi ingat di bulan Februrai 2012 pada Hari Sabtu sekitar jam 12 malam sampai 1 dinihari bertempat di alun-alun Kota Magelang
-       Bahwa saksi dan teman-temannya sedang duduk di alun-alun Kota Magelan dan saat datang saksi tidak melihat terdakwa
-          Bahwa kemudian baru terdakwa datang ke lokasi tempat saksi dan teman-teman duduk yang disitu juga ada duduk teman-teman terdakwa yang kemudian mengajak saksi dan teman-teman saksi duduk bareng-bareng
-          Bahwa saat duduk bersama-sama ini kemudian sekitar 15 s/d 20 menit langsung terjadi pemukulan terhadap diri saksi oleh terdakwa dan teman-temannya dimana sebelumnya terdakwa terlihat ngobrol bersama dengan teman-temannya dan terlihat sambil minum minuman keras
-          Bahwa antara saksi dengan terdakwa sama sekali tidak ada ngobrol sama sekali dan tahu-tahu terdakwa langsung memukul saksi;
-          Bahwa saksi kena pukul oleh terdakwa di bagin pipi sebelah kiri dengan tonjokan sebanyak 2 (dua) kali dan saat pemukulan ini ada kerumunan orang dilokasi kejadian
-          Bahwaa saat kejadian ini kemudian saksi Eko menolong saksi korban dan saat dikeroyok saksi langsung jatuh dan kemudian lari

Atas keterangan yang diberikan oleh saksi tersebut terdakwa membenarkan sebagian dari keterangan saksi dan menolak beberapa bagian keterangan saksi

 2.       Saksi EKO PRASETYO Bin JAELANI, dibawah sumpah menerangkan :
-          Bahwa saksi menerangkan yang menjadi korban adalah Sdr. Adi Salam;
-          Bahwa saksi menerangkan bahwa kerugian yang di alami oleh Sdr. Adi Salam berdasarkan pengakuannya mengalami luka sobek pada bagian belakang kepala, memar bagian kepala, bagian kaki dan tangan serta seluruh badan terasa sakit;
-          Bahwa saksi menerangkan kronologis kejadian pengeroyokan tersebut yaitu pada hari sabtu tanggal 18 Februari 2012 sekitar jam 01.00 Wib saksi bersama Anis (Adi Salam) dan Gara menuju alun-alun naik sepeda motor Yamaha Vixion milik Anis kemudian nongkrong di trotoar alun-alun sebelah timur tepatnya depan Gardena di tangga alun-alun dan bergabung dengan sekelompok orang sekitar 8 (delapan) orang yang sudah lebih dulu nongkrong di tempat tersebut karena Gara mengenal salah satu dari mereka yang bernama Dolly (terdakwa). Di tempat tersebut saksi dan korban dan teman-teman lainnya minum minuman keras, sekitar 20 (dua puluh) menit kemudian tiba-tiba Anis dipukul oleh orang yang duduk disebelahnya,
-          Bahwa saksi menerangkan bahwa orang yang nongkrong ditrotoar alun-alun timur tersebut ada sekitar 8 (delapan) orang sedangkan yang mengeroyok Anis siapa saja tidak begitu jelas jumlahnya sekitar 3 (tiga) orang, saksi tidak begitu jelas melihat para pelaku karena saya berusaha melerai mereka dan langsung melarikan diri;
-          Bahwa saksi menerangkan bahwa dalam pengeroyokan tersebut korban sama sekali tidak melakukan perlawanan karena saksi berusaha melindungi diri;
-          Bahwa saksi menerangkan saksi tidak mengenal terdakwa dan tidak mempunyai hubungan keluarga;

Atas keterangan yang diberikan oleh saksi tersebut terdakwa membenarkan sebagian dari keterangan saksi dan menolak beberapa bagian keterangan saksi

3.   Saksi GARA PIRAL CATUR NUGROHO Bin SUTRIMO, dibawah sumpah menerangkan :
-     Bahwa saksi menerangkan yang menjadi korban adalah sdr. Adi Salam;
-                 Bahwa saksi mengetahui pengeroyokan tersebut karena saksi berada disamping korban Adi Salam pada saat dikeroyok oleh terdakwa dan teman-temannya;
-     Bahwa saksi dan teman-temannya termasuk korban sebelum terjadi peristiwa pengeroyokan dan sebelum duduk bersama di alun-alun Kota Magelang telahlebih dahulu minum minuman keras dan saksi korban Andi Salam sudah terlihat mabuk sebelum sampai di Alun-Alun Kota Magelang dimana peristiwa pengeroyokan terjadi
-            Bahwa saksi menerangkan terdakwa melakukan pengeroyokan terhadap korban dengan cara memukul dari belakang korban dan ada terdakwa lain yang menendang korban dari belakang;
-     Bahwa saksi menerangkan setahu saksi terdakwa bersama dengan teman-temannya hanya menggunakan tangan kosong dalam melakukan pengeroyokan tersebut;
-     Bahwa saksi menerangkan pada saat terjadi pengeroyokan tersebut korban tidak melakukan perlawanan hanya berdiri saja lalu dipukul lagi oleh terdakwa bersama dengan teman-temannya;
-     Bahwa setelah diberitahu oleh Adi Salam akibat yang ditimbulkan setelah dikeroyok oleh terdakwa bersama dengan teman-temannya tersebut Adi Salam mengalami luka sobek dan memar pada bagian kepala serta bagian tubuh merasa sakit;
-     Bahwa saksi menerangkan pemukulan oleh terdakwa tersebut disebabkan oleh adanya kata-kata korban yang menurut terdakwa tidak enak didengar;
-     Bahwa saksi menerangkan menurut saksi sebelum terjadi pemukulan tidak ada permasalahan tapi menurut terdakwa kalau sebelum pemukulan kata-kata korban Adi Salam tidak enak didengar;
-     Bahwa saksi menerangkan setelah mencari korban dan Eko namun tidak ketemu maka saksi pulang kerumah dan mengamankan sepeda motor milik korban dirumah saksi;
-     Bahwa saksi menerangkan pada pagi harinya korban mengambil sepeda motornya ke rumah saksi;
-            Bahwa saksi menerangkan korban dan teman-temannya sebelum sampai pada lokasi alun-alun dimana terdakwa dengan teman-temannya berkumpul kondisi korban dan teman-temannya sudah mabuk akibat pengaruh minuman keras
-            Bahwa sesaat sebelum terjadi peristiwa pemukulan terhadap korban, antara korban dan teman-teman serta terdakwa dengan teman-teman hendak menggak alkohol secara bersama-sama dan korban menawarkan minuman alkohol kepada terdakwa
-            Bahwa tawaran minuman alkohol dari korban ditolak atau ditepis terdakwa dan kemudian korban berkata “tolong hargai saya” untuk kemudian terdakwa mengambil gelas yang sudah dituang minuman alkohol dan meminumnya
-            Bahwa kemudian terdengar korban bernyanyi dengan sair “lirikan matamu” yang kemudian tiba-tiba terdakwa memukul korban dengan tangan terkepal kepada korban

Atas keterangan saksi tersebut, terdakwa membenarkan sebagian dan tidak membenarkan sebagian.


Keterangan Ahli : ---------------------------------------------------------------------------

Bukti Surat

Bahwa bukti surat yang diajukan oleh Penuntut Umum dalam perkara ini yaitu:
-          Laporan Polisi Nomor Polisi: LP/04/II/2012/Jateng/Res Mgl Kota/Sek Mgl Tengah tanggal 18 February 2012.
-          Berita Acara Pemeriksaan Saksi-saksi sebagaimana terdapat dalam Berkas Perkara dari Penyidik Kepolisian Resor Kota Magelang Nomor: BP/05/II/BAP/2012/Reskrim tanggal 05 Maret 2012 atas nama tersangka Dolly Pradita Saputra bin Joko Sutrisno.
-          Visum Et Repertum Nomor: 05/RSLR-VER/II/2012 tanggal 22 February 2012 yang ditandatangani oleh Dr. Dwi Arinto, M.Kes.


Keterangan Terdakwa :

Dolly Pradita Saputra Bin Joko Sutrisno,  dimuka persidangan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
-          Bahwa terdakwa diajukan ke persidangan atas dugaan peristiwa pengeroyokan
-          Bahwa peristiwanya berawal dari saksi korban (ADI SALAM) dan kawan-kawannya berjumlah  4 orang datang menghampiri terdakwa dan kawan-kawan yang sedang duduk-duduk berjumlah 8 orang di alun-alun Kota Magelang depan Gardena
-          Bahwa korban dan kawan-kawannya datang menghampiri terdakwa dengan sepeda motor berboncengan 4 orang sekaligus dan terlihat dalam korban dalam keadaan mabuk akibat minuman keras dan mulut korban saat duduk bersebelahan dengan terdakwa sudah bau Minuman Keras
-          Bahwa saat terdakwa dan kawan-kawannya duduk di alun-alun Kota Magelang depan Gardena, kawan-kawan terdakwa minum minuman keras tetapi terdakwa tidak ikut minum
-          Bahwa kemudian saat duduk bersebelahan dengan terdakwa, korban kemudian menawarkan minuman keras kepada terdakwa namun terdakwa menolak tawaran dari korban tersebut untuk kemudian ternyata korban yang dalam pengaruh minuman keras mengeluarkan kalimat kepada terdakwa “itu mbok diombe, ngajenin aku” (itu diminum saja, hargai saya) dan kemudian terdakwa minum minuman keras tersebut
-          Bahwa kemudian korban ngedumel atau mengomel “Cah gede kok gak mau mabuk” yang dilanjutkan korban dengan bernyanyi lirikan matamu saat terdakwa melirik korban sehingga hal ini menimbulkan emosi pada diri terdakwa
-          Bahwa akibat tindakan dan perkataan korban tersebut, terdakwa kemudian memukul pipi kiri korban dengan menggunakan tangan kanan terkepal ke arah korban dimana saat memukul ini posisi terdakwa masih duduk bersebelahan dengan korban
-          Bahwa kemudian ternyata dari belakang korban ada yang menendang korban tapi terdakwa tidak mengetahui siapa yang menendang tersebut
-          Bahwa saat peristiwa ini terdakwa tidak ada meminta bantuan ataupun mengajak teman-teman terdakwa lainnya untuk memukul korban dan terdakwa tidak pula memerintahkannya
-          Bahwa kemudian ternyata korban dikeroyok
-          Bahwa kemudian terdakwa berdiri dan melihat korban terjatuh dan kemudian terdakwa bicara kepada Gara “Ra, mbok dipisahi” dan terdakwa langsung pulang serta terdakwa tidak tahu kondisi korban
-          Bahwa baru pada esok harinya dihubungi orang yang mengaku sebagai abang korban mengajak damai di Polsek dan ternyata saat di Polsek terdakwa langsung diperiksa sebagai tersangka

Barang Bukti

Barang bukti yang diajukan dimuka persidangan berupa : tidak ada.

Tuntutan Penuntut Umum

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Bahwa dalam surat tuntutan pidana penuntut umum No. Reg. PERK.PDM-44/MGL/Ep.2/04/2012 yang telah dibacakan oleh Penuntut Umum pada persidangan tanggal 22 Mei 2012 , telah menuntut terdakwa sebagai berikut :

1.    Menyatakan terdakwa, yaitu terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino, terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana melakukan perbuatan Dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasaan terhadap orang yang mengakibatkan luka-luka sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP sebagaimana dalam Dakwaan Primair Penuntut Umum.
2.    Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino dengan pidana penjara selama 9 (Sembilan) bulan dikurangkan sepenuhnya selama terdakwa menjalani tahanan, dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan ;
3.    Menyatakan barang bukti berupa :
Tidak ada
4.    Menetapkan agar terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).


ANALISIS YURIDIS.

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Nota Pembelaan ini dilandaskan dengan harapan Majelis Hakim Yang Mulia dapat memeriksa dan memutus perkara ini dengan bijaksana, penuh kearifan, serta senantiasa berkiblat pada rasa keadilan, hati nurani kemanusiaan dan tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekiranya Yang Mulia Majelis Hakim berkenan untuk memberikan putusan terhadap diri terdakwa sebuah putusan yang adil, arif dan bijaksana yang semata-mata berdasarkan kepada keadilan yang hakiki atas dasar mencari ridho dari Allah SWT semata.

Sekiranya tidak berlebihan apabila pada persidangan yang mulia dan terhormat ini, kita semua yang terlibat di dalamnya selaku aparatur penegak hukum selalu menjunjung tinggi keadilan fiat justitia ruat coelum” (tegakkan keadilan meskipun langit akan runtuh):

Bahwa terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino diajukan ke persidangan ini karena didakwa Rekan Jaksa Penuntut Umum melakukan Tindak Pidana sebagaimana diatur dan diancam pada ketentuan yang terdapat pada :

Dakwaan Primair                       : Melanggar ketentuan Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP
Dakwaan Subsidair                   : Melanggar ketentuan Pasal 170 ayat (1) KUHP

Rekan Jaksa Penuntut Umum pun kemudian dalam surat tuntutannya yang dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum pada persidangan tanggal 22 Mei 2012 kemarin, telah berkenyakinan terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino berdasarkan keterangan saksi-saksi melakukan Tindak Pidana yang diatur dan diancam pada Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP sehingga menuntut terdakwa penjara selama 9 (Sembilan) bulan penjara dikurangi dengan penahanan yang telah dijalani terdakwa.

Suatu tuntutan yang dalam hal ini patut kami selaku penasihat terdakwa mempertanyakan dasar pertimbangan Rekan Jaksa Penuntut Umum sehingga melahirkan kesimpulan dalam tuntutannya pada perkara yang kita hadapi ini. Adalah suatu keanehan setelah mempelajari tuntutan Rekan Jaksa Penuntut Umum bahwa tuntutan tersebut ternyata didasarkan bukan dari fakta yang terungkap sebagaimana telah kita saksikan dan dengarkan bersama dalam persidangan a quo. Rekan jaksa penuntut umum, ternyata entah karena kekhilafan atau keteledoran atau karena kesengajaan telah melakukan manipulasi atas fakta sesungguhnya dari persidangan. Begitu banyak fakta persidangan telah “hilang” atau “raib” begitu saja dari tuntutan yang diajukan penuntut umum. Hal ini terlihat jelas dari fakta persidangan yang diungkapkan Penuntut Umum dalam bagian keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa. Penuntut umum telah dengan gegabah begitu saja mengeyampingkan apa yang terungkap di persidangan dan hanya mengambil alih sebagian isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik kepolisian dalam perkara a quo untuk kemudian disalin atau di copy paste begitu saja dalam tuntutan. Suatu hal yang sungguh sangat disayangkan karena akan berdampak besar pada cara dan proses bagaimana kita menghasilkan tujuan hukum berupa pencapaian keadilan dalam persidangan ini. Bagaimana mungkin kita akan meraih dan mencapai keadilan dalam persidangan a quo bila fakta persidangan yang sudah sangat jelas dan tegas dihilangkan begitu saja.

Peristiwa penghilangan fakta persidangan – baik karena keteledoran atau kekhilafan ataupun karena kesengajaan- memang bukan hal baru yang sering kita saksikan dalam persidangan perkara pidana. Hal ini tidak lain dan tidak bukan, karena Penuntut Umum begitu sangat antusiasnya hendak memberikan dan menjatuhkan pidana kepada terdakwa meskipun kadangkala berdasarkan fakta sesungguhnya terdakwa tersebut tidak sepantasnya untuk dijatuhi pidana meskipun telah dihadapkan pada persidangan perkara pidana.

Dan, selaku penasihat hukum terdakwa, kami sungguh sangat berharap dan memohon kepada Majelis Hakim Yang Mulia yang dengan palu persidangan telah diserahkan amanah sebagai “Perpanjangan Tangan Tuhan” di muka bumi untuk mewujudkan keadilan bagi diri terdakwa. Persidangan pidana bukanlah bagaimana memberikan dan menjatuhkan pidana belaka kepada terdakwa melainkan suatu proses bagaimana kita selaku aparatur penegak hukum menemukan dan memformulasikan fakta hukum yang terungkap dihadapan persidangan yang mulia dengan jujur dan ikhlas untuk kemudian memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Dan, apabila fakta persidangan memang mengarahkan terdakwa tidak sepantasnya untuk dihukum atau seharusnya memang dihukum tapi bukan dengan  dugaan atau dakwaan yang diajukan kepadanya, maka sudah sepantasnyalah pula hal itu kita berikan kepada terdakwa demi menjaga wibawa hukum itu sendiri. Hal ini pula yang kami simpulkan berdasarkan fakta yang telah terungkap di persidangan a quo terhadap diri Terdakwa Dolly Saputra, dimana kami selaku penasihat hukum terdakwa berkesimpulan tidak seharusnya Terdakwa didakwa dan dituntut berdasarkan ketentuan yang terdapat pada Pasal 170 ayat (2) ke-1 atau Pasal 170 ayat (1) KUHP.

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Bahwa sebelum membuktikan perbuatan terdakwa benar memenuhi dakwaan sebagaimana tersebut diatas, harus juga diketahui adanya unsur-unsur dari pasal yang didakwakan, dan apakah seluruh unsur-unsur Tindak Pidana tersebut dipenuhi oleh fakta hukum perbuatan terdakwa.

Bahwa dakwaan dan tuntutan Penuntut Umum yang menegaskan dalam dakwaaan Primair Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP menyatakan  DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino terbukti bersalah dan menyakinkan melakukan tindak pidana melakukan perbuatan dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan luka-luka.

Bahwa perlu kita cermati dan pahami disini, Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP berbunyi dan mempunyai unsur-unsur sebagai berikut ; jika ia dengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasaan yang digunakan mengakibatkan luka-luka”

Bahwa apa yang saudara Jaksa Penuntut Umum uraikan dan/atau sebutkan dalam surat dakwaan dan surat tuntutannya Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP tidak cermat, teliti dan/atau salah menguraikan bunyi serta unsur-unsur terkait dengan Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP tersebut. (Lihat kembali Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP)

Bahwa uraian unsur-unsur tindak pidana “barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diatur didalam Pasal 170 ayat (1) KUHP bukan seperti yang diuraikan, disebutkan dan dicantumkan oleh saudara Jaksa Penuntut Umum dalam Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP

Bahwa oleh karena dakwaan dan tuntutan dari jaksa Penuntut Umum tidak cermat serta teliti dan/atau pun tidak sesuai dalam hal mengutip bunyi Pasal serta unsur-unsur yang terurai didalam Pasal 170 ayat (2) Ke-1 KUHP maka tuntutan saudara Jaksa Penuntut Umum dalam perkara a quo adalah suatu tuntutan yang tidak sah dan seudah seharusnya batal demi hukum.

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Selanjutnya, disini kami akan membahas uraian dari unsur-unsur pasal sebagaimana dakwaan dan tuntutan yang diajukan Penuntut Umum terhadap terdakwa yang terurai sebagai berikut :

Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP; Barangsiapa jika ia dengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasaan yang digunakan mengakibatkan luka-luka”
·      Barang siapa
Bahwa pada unsur barang siapa ini, pada dasarnya kami selaku penasihat hukum terdakwa tidak jauh berbeda pendapat dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rekan Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutannya pada persidangan yang lalu.
Bahwa pengertian unsur barang siapa atau kadangkala dalam peraturan perundang-undangan hukum pidana materil disebut pula dengan istilah setiap orang adalah suatu penegasan akan subyek hukum baik itu person dan/atau recth person  yang dapat mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang dilakukannya sehingga dapat dimintakan pertanggungjawaban hukum kepadanya.
Dan, dalam hal ini kami selaku penasihat hukum terdakwa berpendapat bajwa unsur barang siapa terhadap terdakwa DOLLY SAPUTRA telah terpenuhi dan dapat diterapkan pada diri terdakwa dimana terdakwa adalah person  yang dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukannya secara hukum.
·      Dengan Sengaja
Bahwa unsur dengan sengaja adalah suatu unsur yang diterapkan dalam peraturan perundang-undangan pidana agar suatu pemidanaan dapat dijatuhkan pada subyek hukum yang telah melakukan dugaan suatu perbuatan pidana dan diberikan ganjaan hukuman setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya.
Dalam hal ini, kami selaku penasihat hukum terdakwa melihat unsur dengan sengaja sama sekali tidak terbukti secara sah dan menyakinkan telah dilakukan oleh terdakwa DOLLY SAPUTRA dalam dugaan tindak pidana yang disangkakan, didakwakan dan kemudian dituntut kepada dirinya.
Tidak terpenuhinya unsur dengan sengaja pada perkara a quo adalah karena dalam perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa DOLLY SAPUTRA bukanlah suatu kesengajaan karena dalam melakukan perbuatannya telah diawalai oleh suatu tindakan atau perbuatan korban yang sengaja memancing emosi terdakwa yang jelas terlihat dari fakta di muka persidangan yang telah kita lalui bersama. Akibat dari tindakan saksi korban yang memancing emosi terdakwa, kemudian terdakwa secara spontanitas memukul saksi korban dengan tangan terkepal sebanyak 1 (satu) kali di bagian pipi kiri saksi korban dan setelah pemukulan oleh terdakwa ini kemudian terdakwa tidak melakukan tindakan apappun terhadap diri saksi korban serta terdakwa tidak pula mengajak, meminta atau memerintahkan orang-orang lain yang  berada disekitar lokasi kejadian untuk memukul saksi korban.
Dalam hal ini jelas terlihat bahwa unsur dengan sengaja sama sekali tidak terbukti dilakukan oleh Terdakwa Dolly Saputra dalam perkara a quo.
·      Dengan Terang-Terangan dan Tenaga Bersama
Bahwa melihat dari fakta yang  terungkap di muka persidangan dalam perkara a quo yang sudah tergambarka secara detail dan sempurna untuk melihat secara imparsial terhadap dugaan tindak pidana yang di duga dilakukan oleh terdakwa, maka kami selaku penasihat hukum terdakwa patutlah menyampaikand alam Nota Pembelaan ini bahwa unsur dengan terang-terangan dan tenaga bersama ini tidak terbukti secara sah dan menyakinkan telah dilakukan oleh terdakwa Dolly Saputra.
Kesimpulan ini kami ambil karena berdasarkan fakta persidangan jelas sekali tidak ada tindakan terdakwa melakukan pemukulan terhadap saksi korban secara terang-terangan dan dengan menggunakan tenaga bersama. Bahwa pemukulan yang dilakukan terdakwa terhadap diri saksi korban hanyalah gerakan spontanitas akibat perbuatan saksi korban yang memancing emosi terdakwa dan sama sekali tidak ada niat dari terdakwa.
Bahwa kemudian terdakwa setelah melakukan 1 (satu) kali pemukulan terhadap saksi korban, maka terdakwa langsung meninggalkan lokasi kejadaian perkara dimana sebelum meninggalkan lokasi terdakwa sempat berkata kepada salah satu temannya yang berada di lokasi untuk memisahkan pemukulan yang dilakukan beberapa orang lainnya terhadap saksi korban. Disini tergambarkan secara pasti, tindakan atau perbuatan tidak dilakukan secara terang-terangan dan tidak pula dengan tenaga bersama sehingga sudah sepatutunya apabila disimpulkan unsur ini tidak terbukti secara sah dan menyakinkan.
·      Menghancurkan Barang atau Kekerasan Mengakibatkan Luka-Luka
Bahwa terhadap unsur menghancurkan barang atau kekerasan mengakibatkan luka-luka patut kami selaku penasihat hukum terdakwa sampaikan unsur ini tidak pula terbukti secara sah dan menyakinkan telah dilakukan oleh Terdakwa Dolly Saputra.
Tidak terpenuhinya unsur ini karena sama sekali tidak ada perbuatan atau tindakan terdakwa yang mengakibatkan luka-luka terhadap diri saksi korban. Adapun, luka yang dialami oleh saksi korban sama sekali tidak dapat dibuktikan apakah benar dilakukan oleh pemukulan secara bersama-sama oleh orang-orang yang berada di lokasi kejadian atau oleh karena ada peristiwa lain karena adanya rentang waktu yang cukup panjang setelah peristiwa di lokasi kejadian dengan visum et repertum yang dilakukan saksi korban. Bukti visum et repertum yang diajukan tidaklah bisa dipastikan atau diyakini diakibatkan perbuatan terdakwa terhadap saksi korban.
Oleh karena itu, patut kami simpulkan dan sampaikan disini untus menghancurkan barang atau kekerasan mengakibatkan luka-luka  tidaklah terbukti secara sah dan menyakinkan telah dilakukan oleh terdakwa.

Berdasarkan apa yang kami sampaikan diatas, maka patutlah dinyatakan bahwa Trdakwa Dolly Saputra dinyatakan tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan perbuatan pidana sebagaimana diatur dan diancam pada Pasal 170 ayat (2) ke -1 KUHP sehingga sudah sepantasnya apabila Terdakwa Dolly Saputra dibebaskan dari Dakwaan PRIMAIR.

Pasal 170 ayat (1) KUHP;
“Barang siapa yang di muka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang”
·      Barangsiapa
Bahwa untuk unsur barang siapa  ini, kami mohon pengertian dan kesimpulan kami pada unsur dakwaan primair sebagaimana tersebut diatas dianggap satu kesatuan dan dianggap terbaca kembali dalam kesimpulan pada unsur Pasal 170 ayat (1) KUHP ini.
·      Di Muka Umum Bersama-sama
Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, patut kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa simpulkan dan sampaikan disini pada dasarnya unsur di muka uum bersama-sama tidaklah terbukti secara sah dan menyakinkan telah dilakukan oleh terdakwa.
Hal ini dapatdisimpulkan berdasarkan fakta persidangan dimana tidak ada satupun alat bukti baik itu keterangan saksi maupun keterangan terdakwa serta alat bukti lainnya yang menyimpulkan telah terjadi pemenuhan unsur ini. Tindakan yang dilakukan terdakwa kepada saksi korban hanyalah suatu tindakan atau gerakan spontanitas akibat perbuatan saksi korban yang telah melecehkan dan membangkitkan emosi terdakwa sehingga kemudian terdakwa melakukan pemukulan sebanyak 1 (satu) kali terhadap saksi korban.
Bahwa kemudian sesaat setelah melakukan pemukulan terhadap saksi korban, terdakwa langsung berdiri dan meninggalkan lokasi kejadian perkara dimana sebelum meninggalkan lokasi kejadian terdakwa pun sempat mengatakan kepada salah seorang temannya agar memisahkan peristiwa pemukulan yang menimpa diri saksi korban dari orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Dan disini, terlihat secara jelas dan gamblang sama sekali tidak ada suatu gerakan bersama terdakwa dan orang-orang yang berada di lokasi kejadian perkara. Adapun tindakan orang-orang disekitar lokasi yang kemudian memukul saksi korban bukanlah atas kehendak ataupun perintah ataupun permintaan terdakwa sehingga tidak sepatutnya perbuatan pidana yang dilakukan orang lain harus dibebankan kepada terdakwa yang sama sekali tidak melakukan dan tidak mengetahuinya.
·      Melakukan Kekerasan Terhadap Orang atau Barang
Bahwa berdasarkan fakta persidangan memang ada suatu perbuatan terdakwa yang melakukan kekerasan terhadap diri saksi korban dengan melakukan pemukulan dengan tangan terkepal kepada pipi kiri saksi korban sebanyak 1 (satu) kali. Sehingga untuk unsur melakukan kekerasan terhadap orang atau barang  ini kami simpulkan telah terpenuhi.

Bahwa berdasarkan hal  yang kami sampaikan diatas, karena tidak terpenuhinyaseluruh unsur dari Pasal 170 ayat (1) KUHP telah dilakukan oleh Terdakwa maka sudah sepantasnya apabila dinyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan pelanggaran pidana sebagaimana diatur dan diancam pada dakwaan subsidair ini.

 Hal-hal Yang Meringankan Terdakwa

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Sebelum sampai pada kesimpulan akhir dari Nota Pembelaan kami selaku penasihat hukum terdakwa, maka patut pula kami sampaikan hal-hal yang meringankan yang patut kita pertimbangkan secara bersama sebelum memberikan putusan akhir kepada terdakwa yaitu :

1.    Terdakwa mengakui dan menjelaskan dengan terus terang perbuatan dugaan pidana yang diduga atau disangkakan kepadanya sehingga persidangan berjalan lancar
2.    Terdakwa telah menyesali perbuatan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan pidana tersebut
3.    Sudah ada perdamaian antara terdakwa dan korban (saksi ADI SALAM) dalam fakta atau peristiwa pidana yang terjadi
4.    Terdakwa masih terdaftar sebagai siswa di SMA Muhammadiyah Secang, dan berharap bisa sekolah kembali untuk melanjutkan dan mewujudkan masa depannya
5.    Terdakwa masih sangat muda dan masih mempunyai harapan untuk memperbaiki perilakunya.
6.    Terdakwa belum pernah dihukum.
7.    Perbuatan yang dilakukan terdakwa adalah suatu perbuatan spontanitas akibat tindakan korban yang terkesan melecehkan atau meremehkan terdakwa


KESIMPULAN

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Bahwa berdasarkan analisis hukum yang telah kami lakukan terhadap surat dakwaan maupun surat tuntutan, terbukti bahwa Penuntut Umum tidak cermat dan kurang teliti mencantumkan dakwaan serta tuntutan pasal dalam KUHP yang tidak sesuai dengan bunyi dan unsur-unsur dari pada pasal tersebut yang sesungguhnya. Yang mana tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa mengunakan Pasal 170 ayat (2) ke-1 dimana bunyi dan unsur-unsur dari pasal tersebut tidak sesuai.

Bahwa Jaksa Penuntut Umum mendakwakan dan menuntut terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino telah terbukti bersalah dan sah secara menyakinkan melakukan Tindak Pidana melakukan perbuatan dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan luka-luka  sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP  sebagaimana dalam Dakwaan Primair Penuntut Umum. Perlu kami garis bawahi disini, bahwa uraian mengenai bunyi dan unsur-unsur pidana yang Jaksa Penuntut Umum dakwa dan tuntut tidaklah sesuai serta bukan merupakan bunyi ataupun unsur-unsur dari pada Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP melainkan bunyi dan unsur-unsur yang terdapat di dalam Pasal 170 ayat (1) KUHP.

Bahwa uraian atau bunyi dari Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP secara lengkapnya menyatakan sebagai berikut : “jika ia dengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasan yang digunakan mengakibatkan luka-luka”

Bahwa oleh karena dakwaan dan tuntutan dari jaksa Penuntut Umum tidak cermat serta teliti dan/atau pun tidak sesuai dalam hal mengutip bunyi Pasal serta unsur-unsur yang terurai didalam Pasal 170 ayat (2) Ke-1 KUHP maka tuntutan saudara Jaksa Penuntut Umum tidak sah dan batal demi hukum.

Bahwa kami Penasihat Hukum terdakwa berkeyakinan bahwa Majelis hakim akan senantiasa berpegang teguh pada rasa keadilan demi tegaknya keadilan dan kepastian hukum bagi terdakwa.

Bahwa kami penasihat hukum meyakini bahwa tidak ada kebencian yang melekat pada diri kami atau dendam, tetapi semata-mata didasarkan kepada tanggung jawab untuk melaksanakan tugas dan profesi masing-masing dengan sebaik-baiknya yang berpedoman pada etika dan norma hukum yang akhirnya kesemuanya berpulang kepada pertanggungjawaban kita masing-masing kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.



PERMOHONAN & PENUTUP

Majelis Hakim yang kami hormati,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami hormati,

Bahwa oleh karena persidang dan nota pembelaan (pledooi) ini telah selesai kami uraikan satu persatu dimana pda kesimpulan telah pula kami jelaskan berdasarkan fakta persidangan perbuatan yang dilakukan terdakwa DOLLY SAPUTRA tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan perbuatan pidana sebagaimana pada DAKWAAN PRIMAIR dan DAKWAAN SUBSIDAIR, maka dengan segala kerendahan hati kami penasihat hukum terdakwa, memohon dengan hormat kepada Majelis Hakim Yang Mulia yang mengadili perkara ini berkenan memutuskan :

 1.       Menyatakan terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana disebutkan dalam Dakwaan Primair yaitu Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP.
2.       Menyatakan terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana disebutkan dalam Dakwaan Subsidair yaitu Pasal 170 ayat (1) KUHP.
3.       Membebaskan terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino dari dakwaan-dakwaan tersebut (Vrijspraak) sesuai pasal 191 ayat (1) KUHAP atau setidak-tidaknya melepaskan terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino dari semua tuntutan hukum (onstlaag van alle rechtvervolging) sesuai pasal 191 ayat (2) KUHAP.
4.       Membebaskan terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino dari tahanan;
5.       Mengembalikan nama baik terdakwa DOLLY PRADITA SAPUTRA Bin Joko Sutrino di masyarakat, dengan mewajibkan kepada Penuntut Umum agar mengiklankan di beberapa harian (media massa).
6.       Membebankan biaya perkara kepada Negara.

Atau
Jika Majelis hakim berpendapat lain, kami mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo at bono) dengan tetap menjunjung tinggi hak-hak dasar (azasi) terdakwa sebagai manusia dan dalam sistem peradilan yang adil.


Semoga Tuhan memberkati.


Hormat kami,
Penasihat Hukum Terdakwa




Noor Aufa, S.H.
 AUFA & Partners;
Jalan Singosari No. 18 Kel. Rejowinangun Selatan
Kec. Magelang Selatan Kota Magelang Jawa Tengah (56124)
+6285292061777
email : noor.aufa@yahoo.co.id



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar